Antropolog ternama ,
marggaret mead, pernah menulis “ nenek ku ingin aku mendapatkan pendidikan,maka
dia melarangku bersekolah”sementara,dala Descooling Society,filsuf Austria
,Ivan illich mengatakan bahwa sekolah dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda
Itu kurang lebih analog
dengan fakta bahwa ijazah dan kemampuan adalah dua hal yang tak sama. Mengutip
Tan malaka,mantan guru yang lebih dikenal sebagai tokoh Revolusioner kiri
“ijazah hanyalah kemungkinan adanya kecakapan”
Kasus maraknya ijazah
palsu dan jual beli gelar kesarjanaan yang terbongkar baru-baru ini menandaskan
hal itu. Untuk menjadi seorang doctor,kita hanya perlu menyediakan uang sekian
puluh juta rupiah, tak perlu membuat penelitian berdarah-darah yang dituangkan
dan disertai yang di ujikan di depan para pakar. Gilanya, kasus memalukan itu
juga meibatkan sejumlah tokoh terpandang.
Itu kian membuktikan
pada masa kini, gelar akademis hanya menjadi semacam atribut yang di gunakan
untuk bersolek,menambah rasa percaya diri,dan jalan pintas untuk mencapai
kemudahan hidup.soal apakah itu menandakan pemiliknya menguasai suatu ilmu yang
dikaitkan dengan gelarr itu atau tidak,seperti yang lagi-lagi dinyatakan oleh
Tan malaka dalam madilog menjadi tidak penting.
Dalam aman yang serba
artifisial ni,apa boleh buat, upur dan gincu di anggap lebih penting ketimbang
segala substansial.segalanya bisa dibeli dengan uang termasuk kehormatan dan
gelarr akademis.disisi lain,ada fenomena munculnya tokoh unk sepertii susi
pujiastuti , mentri dengan kebijakan dan gagasan yang penuh teroosan walau dia
secara ormal hanya memiliki ijazah SMP
Ini juga menohok kita
dengan serangkaian pertanyaan tentang guna bersekolah? Tanpa maksud menafikan
sekolah formal,saya ingin menundukan perkara pada yang esensial, sekolah menjadi
berbahaya jika itu hanya menjadi sarana mengikuti formalitas yang mengaburkan
esensi pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar