Minggu, 25 Desember 2016

Pendidikan Dan Ijazah

Antropolog ternama , marggaret mead, pernah menulis “ nenek ku ingin aku mendapatkan pendidikan,maka dia melarangku bersekolah”sementara,dala Descooling Society,filsuf Austria ,Ivan illich mengatakan bahwa sekolah dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda
Itu kurang lebih analog dengan fakta bahwa ijazah dan kemampuan adalah dua hal yang tak sama. Mengutip Tan malaka,mantan guru yang lebih dikenal sebagai tokoh Revolusioner kiri “ijazah hanyalah kemungkinan adanya kecakapan”
Kasus maraknya ijazah palsu dan jual beli gelar kesarjanaan yang terbongkar baru-baru ini menandaskan hal itu. Untuk menjadi seorang doctor,kita hanya perlu menyediakan uang sekian puluh juta rupiah, tak perlu membuat penelitian berdarah-darah yang dituangkan dan disertai yang di ujikan di depan para pakar. Gilanya, kasus memalukan itu juga meibatkan sejumlah tokoh terpandang.
Itu kian membuktikan pada masa kini, gelar akademis hanya menjadi semacam atribut yang di gunakan untuk bersolek,menambah rasa percaya diri,dan jalan pintas untuk mencapai kemudahan hidup.soal apakah itu menandakan pemiliknya menguasai suatu ilmu yang dikaitkan dengan gelarr itu atau tidak,seperti yang lagi-lagi dinyatakan oleh Tan malaka dalam madilog menjadi tidak penting.
Dalam aman yang serba artifisial ni,apa boleh buat, upur dan gincu di anggap lebih penting ketimbang segala substansial.segalanya bisa dibeli dengan uang termasuk kehormatan dan gelarr akademis.disisi lain,ada fenomena munculnya tokoh unk sepertii susi pujiastuti , mentri dengan kebijakan dan gagasan yang penuh teroosan walau dia secara ormal hanya memiliki ijazah SMP

Ini juga menohok kita dengan serangkaian pertanyaan tentang guna bersekolah? Tanpa maksud menafikan sekolah formal,saya ingin menundukan perkara pada yang esensial, sekolah menjadi berbahaya jika itu hanya menjadi sarana mengikuti formalitas yang mengaburkan esensi pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar