Minggu, 25 Desember 2016

Detik nafas Rasulullah SAW



Matahari kian tinggi,pintu kediaman rasulullah masih tertutu.didalamnya beliau sedang berbaring lemah dengan kening yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terengar eseorang berseru mengucapkan salam.
“bolehkah saya masuk?”tanyanya,namun Fatimah tidak mengijinkannya masuk.”maafkanlah,ayahku sedang demam,”kata putri rasulullah itu sambil membalikan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemanii sang ayah yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah, “siapakah itu wahai anaku ?”
“tak tahulah ayah,sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”tutur Fatimah lembut.”ketahuilah dialah yang meghapuskan kenikmatan sementara,dialah yang memisahkan pertemuan didunia,dialah malaikat maut.”kata rasulullah.
Fatimahpun menahan ledakan tangisannya.
Malaikat maut datang menghapiri,tetapi rasulullah menanyakan mengapa jibril tidak ikut menyertai.
Kemudian dipanggilah jibril yang sebelumnya sudah bersap diatas langit dunia untuk menjemput ruh kekasih allah, “jibri,jelaskan apa hak kun anti dihadapan allah?”Tanya rasulullah dengan suara yang amat lemah,”pintu-pintu langit telah terbuka,para malaikat menanti ruh mu,semua surge terbuka lebar menanti kedatanganmu,”kata jibril
Rasulullah tampak tiddak lega,matanya masih penuh kecemasan.”tidak kah engkau senang mendengar kabar ini?”tnya jibril
“KABARKAN KEPADAKU BAGAIMANA NASIB UMATKU KELAK ?”
“jangan khawatir,wahai raull allah ,aku pernah mendengar allah berfirman kepadaku:’kuharamkan surge bagi siapa saja kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya”,kata jibril
Detik-detik hidup manusia tercinta telah habis,saatnya izrail melakukan tugas.perlahan ruh rasulullah ditarik,badan rasulullah mulai dingin ,kaki dan tangan nya sudah tidak bergerak lagi.bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu.ali segera mendekatkan telinganya “peliharalah sholat dan santuni orang-orang lemah diantaramu.”
Fatimah menutupkan tangan diwajahnya dan ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir rsulullah yang mulai kebiruan.
“UMMATI,UMMATI,UMMATI.”
Dari kutipan kisah diatas betapa rasulullah sangat mencintai umatnya,betapa rasulullah memperdulikan umatnya tanpa memikirkan dirinya sendiri , bahkan saat detik terakhir pun bukan harta yang ia titikan,bukan jabatan dan lain sebagainya melainkan umatnya ,umatnya yang ia wasiat kan .
“alangkah bahagianya jika aku menemui mereka,rindunya aku pada mereka ,para sahabat betanya, engkau menangis ya rasulullah?engkau rindukan umat mu ya nabiyullah”?engkau merindukan kami ? tapi mengapa kami tak pernah mengingatimu,bahkan selalu meupakanmu sedangkan  dihujung nafasmu  dirimu masih mengingati kami , kau melirih kami umatku,ummatku,ummatku !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar