Minggu, 25 Desember 2016

KONFLIK DIPOSO



agama, birokrasi pemerintahan dan politisi lokal serta masyarakat
akan berani masuk ke Poso, begitupun kombatan Poso yang Muslim
Akar konflik yang terjadi di wilayah Poso senantiasa dikaitkan
antara Muslim dan Nasrani (Pontoh, 2002) ataupun antara pendatang
aspek-aspek sosial yang menghalangi terciptanya pemerintahan
bahwa dalam pemilihan kepala daerah langsung 2010 terjadi perubahan
banyak identitas etnis dan agama dengan masing-masing keterkaitan
belum sepenuhnya bersepakat untuk menggunakan demokrasi sebagai
berani melintasi wilayah tertentu. Kombatan Kristen dari Tentena tidak
biasa, sehingga ketika konflik muncul akan menyebar ke berbagai
calon. Masyarakat mulai lebih peduli terhadap kandidat yang
dalam masyarakat Poso ketika menerjemahkan identitas agama dan
dan friksi di tengah masyarakat. Apalagi para aktor politik tersebut
dan kesejahteraan pascakonflik tersebut tergambar dalam temuan
dan pribumi. Secara administratif Poso merupakan penggabungan
demokrasi sebagai instrumen pergantian kepemimpinan secara damai.
demokratis. Secara empirik, komposisi elit yang ada di Poso saat ini
dengan konflik elit yaitu perebutan jabatan Bupati dan Sekretaris Daerah
dibangun rezim demokrasi. Menurut Leslie Lipson (1960), sebuah
digunakan oleh para kandidat, akan tetapi telah terjadi re-interpretasi
dinamika politik. Kendati isu agama dan suku masih tetap marak
elemen pada posisi setara sehingga dapat menjelmakan kesempatan
elemen yang ada di dalamnya sangat tergantung pada kemampuan
et.al., 2012: 41-42), serta pegunungan Lore yang berdekatan dengan
Fakta ini menggembirakan, sebab di era konflik para kombatan tidak
faktor kedekatan menjadi penting”.1 Kecenderungan ini menguatkan
Gejala ini mengindikasikan bahwa isu-isu keamanan dan kesejahteraan
Hal ini menempatkan aktor-aktor politik yang pernah terlibat
hubungan dengan kerajaan Luwu di wilayah Sulawesi Selatan. Poso
instrumen pengelolaan kekuasaan. Kondisi tersebut, baik secara
instrumen-instrumen pembentukan sentimen komunalitas seperti
juga memiliki hubungan sejarah kuat dengan kerajaan Parigi (Haliadi,
ke-etnis-an.
kemudian harus dapat keluar dari bayang-bayang tersebut, yaitu
Kendati potensi konflik di tingkat masyarakat sudah mulai
konflik menjadi agen penting bagi pencari kuasa. Salah satu bentuk
konflik yang pernah terjadi. Aktor politik demokratis harus dapat tetap
Konstruksi Politik Pascakonflik di Poso
langsung maupun tidak, merupakan wujud nyata ancaman perpecahan
lembaga pemerintah, organisasi keagamaan, kepemudaan dan
Masa depan Poso sebagai satu entitas wilayah dengan berbagai
masa konflik secara alami, yang menghambat proses yang dapat
masalah publik. Grafik 1 di bawah ini menggambarkan harapan
masih merupakan bagian dari rezim konflik yang berkiprah di berbagai
masyarakat akan peran negara sebagai problem solver.
masyarakat senantiasa dikaitkan dengan relasi dengan penguasa.
membawa isu-isu keamanan dan kesejahteraan dalam kampanyenya.
menempatkan elit politik demokrasi tersebut sebagai tawanan dari
mengembalikan kepercayaan publik. Kerinduan publik akan hadirnya
menjadi solusi yang mewujudkan keadaan lebih baik untuk pelayanan
menjadi titik temu antara berbagai kepentingan dengan tidak
menjaga kebebasannya untuk bertindak dan menempatkan setiap
menurun, di tingkat elit, para aktor yang pernah terlibat konflik masih
mulai menggeser pola perilaku sebelumnya yang berbasis identitas
namun berbagai kendala lain bermunculan sebagai problem dalam
NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR
negara kuat yang dapat menyelesaikan masalah-masalah keamanan
nyata relasi tersebut tampak pada penguasaan permodalan,
para aktor konflik yang melingkupinya sebagai produk reproduksi
pembantaian terorganisasi (progron). Untuk itu bentuk akomodasinya
Pemerintah Kabupaten Poso merupakan kelanjutan sistem
pemerintah menyelesaikan masalah-masalah pascakonflik agar dapat
pengusaha dan berbagai profesi lainnya.
Persaingan kekuasaan akan mengumpulkan kekuatan massa pada
politik yang mewarisi dua keadaan yaitu kekerasan dan konflik, bahkan
publik, pembangunan sarana dan prasarana publik.
pulang kampung bersama (lihat Gogali, 2010). Demokrasi tampaknya
rezim demokrasi. Keberadaan persaingan dalam berbagai kehidupan
sejarah yang berbeda. Masyarakat Pamona dan Baree memiliki
sektor di masyarakat. Meskipun faktor keamanan sudah kondusif,
Sigi. Pemilihan kepala daerah secara langsung adalah penjelmaan
sistem politik tidak dapat berjalan dengan baik jika dikelilingi oleh
Studi yang dilakukan Nawawi, et.al. (2012) bahkan menemukan
suku sebagai pertimbangan utama voters dalam memilih pasangan
sumbu politik tertentu.
Survei PWD (2013) tentang institusi yang semestinya menangani
Tantangan Mewujudkan Kesejahteraan Pascakonflik di Poso
tersebar di berbagai sektor kehidupan masyarakat selaku tokoh
tidak akan masuk ke Tentena. Namun pada 2005 dan 2010, mereka
untuk hidup lebih baik kepada semua masyarakat.

yang dekat-dekat dengan para penguasa ataupun birokrat lokal,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar